Tesis Teknologi Pendidikan pendekatan eksploratori
IMPLEMENTASI
PENDEKATAN
PEMBELAJARAN EKSPLORATORI
DALAM
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR
ILMU
PENGETAHUAN ALAM
PADA
SISWA SMKN I PONDOK KELAPA
TESIS
HENI TRI ASTUTI
NIM : A2M010025
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian
Syarat Memperoleh Gelar
Magister Pendidikan pada Program Studi
Pascasarjana (S2)
Teknologi Pendidikan FKIP Universitas
Bengkulu
PROGRAM STUDI
PASCASARJANA (S2)
TEKNOLOGI
PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BENGKULU
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran dewasa
ini,aktivitas yang menonjol terjadi pada siswa, guru lebih cenderung berperan
sebagai fasilisator dan motivator,dalam hal ini guru berhadapan dengan benda
hidup yang mempunyai karakteristik yang berbeda, oleh karena itu guru dituntut
memiliki kesabaran dan kecintaan dalam memahami dan mengelola proses
pembelajaran karena itu hal demikian merupakan kunci keberhasilan seorang guru
dalam mengajar.
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut,sudah banyak metode dan model yang diciptakan oleh para
ahli pendidikan dalam melakukan pendekatan agar ketiga ranah yaitu kognetif,
afektif, psikomotor dapat tercapai secara utuh dan tidak terpotong-potong
karena suatu aktivitas pembelajaran siswa terlibat secara menyeluruh tidak
terpisah–pisah, secara nyata yang dapat diamati aspek afektif dan psikomotornya
saja namun perlu disadari bahwa motor dari kedua aspek itu adalah kognitif.
Pembelajaran bertujuan
membuat siswa aktif melakukan tugas-tugas belajar, siswa bukanlah obyek yang
bersifat pasif karena merespon materi yang disampaikan oleh guru, respon yang
diberikan siswa kepada guru merupakan umpan balik bagi guru yang bersangkutan.
Dimana perubahan prilaku yang terjadi pada siswa dipengaruhi oleh interaksi
guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa oleh karena itu suasana ini
harus diciptakan atau dikondisikan karena faktor ini turut memperlancar proses
proses pembelajaran siswa.
Inti proses pengajaran tidak
lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.
Tujuan pengajaran akan tercapai secara maksimal jika disesuaikan dengan
kegiatan belajar mengajar yang diterapkan (Djamar, 2002). Oleh karena itu
sebagai pengajar guru harus dapat menentukan kegiatan belajar mengajar yang
tepat. Dalam pelaksanaan proses pengajaran selama ini berlangsung menunjukkan
bahwa sebagian besar siswa tampak kurang berminat, kurang bergairah dan
cendrung tidak aktif. Hal ini ditunjukkan oleh sikap yang kurang antusias
ketika pelajaran berlangsung, rendahnya respon umpan balik dari siswa terhadap
pertanyaan dan penjelasan guru serta pemusatan perhatian yang kurang. Hal ini
tentunya tidak kita harapkan karena dapat mempengaruhi hasil belajar siswa yang
maksimal.
Belajar merupakan kegiatan
sehari-hari bagi siswa sekolah. Kegiatan ini dilakukan secara sadar dan
terencana yang mengarah pada pencapaian tujuan dari kegiatan belajar yang sudah
dirumuskan dan diterapkan sebelumnya. Keberhasilan dalam belajar terlihat dari
siswa yang berprestasi.
Keberhasilan siswa dalam
belajar tidak terlepas peran aktif guru yang mampu memberi motivasi dan dapat
menciptakan iklim belajar yang harmonis, kondusif, menyenangkan dan mampu
memberi semangat kepada siswa.
Rendahnya prestasi belajar
dipengaruhi beberapa faktor baik internal maupun eksternal siswa itu sendiri.
Faktor internal antara lain minat siswa, bakat, motivasi dan intelegensi,
sedangkan faktor eksternal antara lain metode belajar, fasilitas, media, proses
belajar baik di sekolah maupun luar sekolah.
Seseorang akan berhasil
dalam belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Motivasi
sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam
suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Agar
siswa dapat menerima dan, menguasai materi dengan baik, tentunya tidak
tergantung pada guru saja, tetapi juga diperlukan adanya keinginan dan dorongan dari siswa sendiri bukan karena
paksaan. Menurut Sardiman (1988:89) salah satu cara menumbuhkan motivasi
belajar adalah dengan menumbuhkan kesadaran pada diri siswa akan manfaat
pengetahuan yang diperolehnya. Hal ini akan terjadi apabila materi pelajaran
dikaitkan dengan masalah-masalah yang mungkin ditemui siswa dalam kehidupan
mereka. Oleh karena itu, guru perlu menggunakan pendekatan yang mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata, serta lebih menekankan
pentingnya siswa menemukan pemahaman sendiri melalui proses yang alami,
sehingga proses belajar lebih bermakna. Pendidikan merupakan usaha sadar dan
terencana yang dilakukan melalui proses pembelajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri manusia baik dalam aspek
kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam suatu pendidikan terdapat
beberapa komponen meliputi tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik,
lingkungan pendidikan, dan media pendidikan yang menjadi satu kesatuan
fungsional yang saling berinteraksi, bergantung satu sama lain untuk mencapai
tujuan pendidikan, dimana salah satu caranya adalah melalui pendidikan sekolah.
Dengan demikian, hasil pendidikan di sekolah sangat diharapkan dapat membantu
siswa dalam mempersiapkan kehidupannya.
Pembelajaran
di kelas terdiri dari beberapa komponen yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain
guru, siswa, sarana prasarana, strategi pembelajaran dan keadaan kelas.
Strategi pembelajaran yang digunakan di SMK I Pondok Kelapa sebagian besar
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sedangkan proses pembelajaran
menggunakan sistem moving class, sehingga penting adanya penggunaan
strategi pembelajaran yang bervariasi untuk menarik minat dan perhatian siswa
dalam proses pembelajaran.
Peneliti
memilih strategi pembelajaran eksploratoriuntuk diterapkan dalam proses
pembelajaran karena strategi tersebut belum pernah dilaksanakan di SMK 1Pondok
Kelapa.
Hasil
pengamatan proses belajar IPA di kelas X TKJ 2 SMK 1 Pondok Kelapa terdapat
beberapa masalah pada siswa yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara
lain : (1) Partisipasi siswa masih rendah dalam proses pembelajaran, jadi
peranan guru yang masih dominan untuk menyampaikan materi. Hal ini dapat
disebabkan karena kurangnya siswa dalam persiapan untuk mengikuti pelajaran
(belum membaca materi), (2) Sebagian besar
siswa kurang termotivasi dan tertarik untuk belajar, (3) Keaktifan siswa
belum optimal baik di dalam bertanya, menjawab dan menanggapi pernyataan, dan
nilai siswa dalam pelajaran IPA relatif rendah, (4) Siswa menganggap bahwa
pelajaran IPA di SMK hanyalah sebagai pelengkap, karena yang terpenting adalah
pelajaran yang berhubungan dengan keahlian.
Pembelajaran
IPA memiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan serta mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif, sehingga IPA perlu diajarkan
dalam sekolah. Penggunaan suatu strategi pembelajaran akan membantu kelancaran,
efektifitas, dan efisiensi pencapaian tujuan. Tujuan utama seorang guru dalam
mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah adalah mengembangkan strategi belajar
mengajar yang efektif. Strategi pembelajaran eksploratorisalah satu strategi pembelajaran yang
dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA diharapkan
dapat menghilangkan rasa bosan siswa dalam belajar. Siswa dapat saling bertukar
pikiran dengan teman. Hal ini dapat membuat kelas lebih hidup dan menyenangkan,
sehingga siswa akan lebih serius belajar.
Berdasarkan hasil belajar
siswa selama ini rata-rata nilai siswa jauh dibawah nilai KKM,dimana nilai KKM
adalah 60,00 sedangkan rata-rata nilai siswa jauh dibawah nilai KKM bahkan ada
yang mendapatkan nilai 0.
Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis mencoba mengadakan penelitian tentang:
“Implementasi Pendekatan Pembelajaran Eksploratori
Dalam Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi
Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Pada Siswa SMKN 1Pondok Kelapa”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan penelitian dapat
diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Masih
rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam
2. Rendahnya
kualitas pengelolaan interaksi antara guru – siswa – siswa
3. Rendahnya
minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam
4. Kurang
aktifnya siswa dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam
5. Rendahnya
kemandirian belajar siswa SMKN I Pondok Kelapa dalam mata pelajaran ilmu
pengetahuan alam
6. Kurang
tersedianya buku teks pelajaran di sekolah
7. Kurangnya
sarana dan prasaran yang mendukung di sekolah, terutama dalam mata pelajaran
IPA
C. Pembatasan Masalah
Karena
banyaknya masalah yang dapat diidentifikasi dan keterbatasan waktu dan biaya
dalam penelitian ini maka perlu dibatasi masalahnya, penelitian ini terbatas
pada Penggunaan strategi pembelajaran eksploratory
dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi
belajar siswa kelas X Teknik Komputer Jaringan (TKJ) 2, tahun pelajaran
2011/2012.
D.
Perumusan
Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah dia atas, maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Apakah implementasi pendekatan pembelajaran eksploratori dapat meningkatkan aktivitas
belajar IPA ?
2. Apakah
dengan strategi pembelajaran eksploratori dapat meningkatkan prestasi belajar
IPA ?
3. Bagaimana efektivitas penggunaan pendekatan pembelajaran
eksploratori pada mata pelajaran IPA ?
4. Faktor–faktor
apa yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pembelajaran eksploratori dalam
mata pelajaran IPA ?
E. Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan dan pembatasan
masalah yang telah dikemukakan, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk
mengidentifikasi
apakah implementasi starategi pembelajaran eksploratori dapat meningkatkan
aktivitas belajar IPA
2. Untuk
megidentifikasi
apakah dengan strategi pembelajaran eksploratori dapat meningkatkan prestasi
belajar IPA
3. Untuk mengidentifikasi keefektivitasan Pendekatan
pembelajaran eksploratori pada mata pelajaran IPA
4. Untuk
mengidentifikasi
faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan
pembelajaran eksploratori dalam mata pelajaran IPA
F. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat teoritis
Secara
teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :
Sebagai
salah satu alternatif untuk memberikan aktivitas belajar dalam meningkatkan
prestasi hasil belajar siswa.
a. Bagi
siswa dapat meningkatkan pemahaman siswa akan materi yang telah disampaikan
oleh guru.
b. Bagi
guru memberikan alternatif kepada guru atau calon guru dalam menentukan
strategi, metode atau pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi
yang akan diajarkan.
c. Bagi
guru memberikan informasi kepada guru dan calon guru untuk lebih menekankan
pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
Secara
praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa
langkah-langkah untuk meningkatkan aktivitas siswa terutama pada mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi
siswa,guru, dan sekolah yaitu sebagai berikut :
a. Bagi
siswa dapat memperoleh bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam
kehidupan sehari- hari.
b. Bagi
Guru memberikan masukan kepada guru atau calon guru untuk terus menambah
informasi terbaru dalam dunia pendidikan tetapi tidak terfokus pada satu sumber
informasi saja.
c. Memberikan
sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran
guna meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu juga memotivasi kepada
guru-guru agar menerapkan metode yang bervariasi dalam pembelajaran.
d. Bagi
perpustakaan, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai perbandingan atau
sebagai referensi untuk penelitian yang relevan.
BAB II
KAJIAN TEORETIK
A. Teoritik area penelitian
1. Pembelajaran Di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK)
Sistem
kurikulum pembelajaran di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) berbeda dengan sistem kurikulum pembelajaran di Sekolah
Menengah Atas (SMA)
Berdasarkan
hasil kajian terhadap dokumen dan pelaksanaan serta analisisnya, ditemukan
hal-hal sebagai berikut.
1. Kelompok Mata Pelajaran dan Struktur
Kurikulum
a. Kelompok Mata Pelajaran
Uraian
tentang kelompok mata pelajaran yang berisi deskripsi kelompok mata
pelajaran spesifik SMK, merujuk kepada Permen 22 tahun 2006, meliputi tiga
kelompok mata pelajaran, yaitu kelompok normatif, kelompok adaptif, dan
kelompok produktif. Kelompok normatif adalah kelompok mata pelajaran yang
dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan,
Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya.
Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA,
IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI), dan Kewirausahaan.
Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompok-kan
dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. Sekolah Menengah
Kejuruan mempunyai kekhususan. Kekhususan tersebut terletak pada mata pelajaran
produktif. Seperti halnya mata pelajaran lain, standar isi (SI) dan standar
kompetensi kelulusan (SKL) mata pelajaran produktif juga perlu dikaji. Kegiatan
kajian diusulkan agar dilakukan dengan melibatkan para guru dan dosen
berpengalaman industri, para profesional DU/DI dalam bidangnya serta asosiasi
profesi terkait. Pelibatan mantan anggotaKelompok Bidang Keahlian (KBK) pada
Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional(MPKN) sangat disarankan. Buram final perlu
disebar-luaskan secara terbuka kepada para pemangku kepentingan untuk mendapat
masukan. Mengingat KTSPSMK harus mengacu pula pada Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia (SKKNI), sedangkan belum semua program keahlian memiliki
SKKNI, perlu upaya sinergis dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi)
untuk penyusunan SKKNI terkait yang
belum terbit.
b.Struktur
Kurikulum
Struktur
Kurikulum berisi uraian tentang jumlah jam pelajaran setiap mata pelajaran,
minimal sesuai dengan standar isi untuk semua jenis program/jurusan pada
sekolah untuk setiap semester yang berlaku pada tahun pelajaran itu. Standar
isi merujuk kepada Permen 22 tahun 2006, merujuk kepada panduan
penyusunan kurikulum KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah yang disusun
oleh BSNP.Struktur Kurikulum yang dituangkan dalam bentuk matrik, memuat
tentang nomor, kode kompetensi, kelompok mata pelajaran/kompetensi,
tahun/tingkat dan semester serta jumlah jam. Berdasarkan analisis pelaksanaan
di lapangan, penambahan mata pelajaran pada kelompok normatif (Seni Budaya) dan
pada kelompok adaptif (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam)
berdampak pada beban belajar peserta didik di sekolah menengah kejuruan di satu
sisi, di sisi lain berkurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran produktif.
Sehingga beban jumlah jam belajar dengan perbandingan alokasi waktu tatap
muka, praktik sekolah dan praktik industri (1:2:4) berimplikasi pada
penyediaan waktu lebih banyak dari yang diamanatkan pada standar isi
(mengakomodasi jumlah jam perminggu mak. 40 jam) Oleh karena itu jam real
praktik disekolah dan industri harus dihitung serta melakukan penambahan jumlah
jam pelajaran lebih dari 4 jam pelajaran untuk memenuhi pencapaian standar
kompetensi lulusan
2.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMK
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan konsep pembelajaran
alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia,
pelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan
teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta
kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman
tentang alam semesta.
Di SMK mata pelajaran IPA termasuk kelompok mata
pelajaran Adaptif (KTSP 2006:1) sehingga dianggap kurang penting atau dinomor
duakan oleh siswa. Hal ini ditunjang pula dengan lebih diprioritaskannya mata
pelajaran produktif, atau praktek kejuruan sehingga mata pelajaran ini sering
di plotkan penjadwalannya pada waktu yang kurang tepat.
B. Pendekatan Pembelajaran
1. Pengertian pendekatan
pembelajaran
Mendefinisikan
pendekatan pembelajaran
perlu dipahami arti dan masing-masing kalimat tersebut Depdikbud (1990: 180)
pendekatan dapat diartikan, “sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk
mendekati sesuatu”. Sedangkan pembelajaran menurutGino dkk. (1998:32) bahwa,
“pembelajaran atau intruction merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru
untuk membuat siswa belajar dengan tujuan mengaktifkan faktor intern dan faktor
ekstern dalam kegiatan belajar mengajar”. Sukintaka (2004: 55) bahwa,
“pembelajaran mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu
kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana
peserta didik mempelajarinya”.
Berdasarkan pengertian pendekatan
dan pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran
merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses
pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Hal ini sesuai pendapat Wahjoedi (1999:121) bahwa,
“pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku
siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh
hasil belajar secara optimal”. MenurutSagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan
pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam
mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”.
Tujuan pembelajaran dapat dicapai
maka perlu dibuat program pembelajaran yang baik dan benar. Program
pembelajaran merupakan macam kegiatan yang menjabarkan kemampuan dasar dan
teori pokok secara rinci yang memuat metode pembelajaran, alokasi waktu,
indikator pencapaian hasil belajar dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran
dari setip pokok mata pelajaran. Sistem dan pendekatan pembelajaran dibuat
karena adanya kebutuhan akan sistem dan pendekatan tersebut untuk meyakinkan
yaitu adanya kebutuhan untuk belajar dan siswa belum mengetahui apa yang akan
diajarkan. Oleh karena itu, guru menetapkan hasil-hasil belajar atau tujuan apa
yang diharapkan akan dicapai.
Dilihat dari pendekatannya, dalam pembelajaran
terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang
telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman
dan Logan (Makmun, 2003:56) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap
usaha, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan
spesifikasi dan kualifikasi hasil (out
put) dan sasaran (target) yang
harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang
memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan
pendekatan utama (basicway) yang
paling efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan
langkah-langkah (steps) yang akan
dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan
tolok ukur (criteria) dan patokan
ukuran (standard) untuk mengukur dan
menilai taraf keberhasilan (achievement)
usaha.
Jika
kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi
peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem
pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan
langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas
minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara
itu, Kemp dalam (Senjaya, 2008:94) mengemukakan bahwa strategi pembelajaranadalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran David, Senjaya (2008:6) menyebutkan bahwa
dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa
strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan
yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari
strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
(1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning
(Rowntree dalam Senjaya, 2008:32). Ditinjau dari cara penyajian dan cara
pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi
pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi
pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya
digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi
merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode
adalah “a way in achieving something” (Senjaya (2008:35).
2. Pengertian
Pendekatan Eksploratory
a. Pendekatan
1.
Pendekatan berasal dari
kata”dekat “ yang artinya suatu yang mudah di dapat secara pisik (Poerdarminta,1985).
Kata “dekat” yang mendapat imbuhan pe-an
berarti hal atau sesuatu tentang kedekatan atau cara mendekati. Makna tersebut amat dekat dengan suatu metode atau
setrategi (Poerwardarminta,1985) dengan kata lain pendekatan bermakana jalan atau
cara untuk menempuh sesutau untuk tujuan tertentu.
(dalam Suyatna, 2007.http://www.scribd.com/59940019/WIWIT-makalah
astronomi) diunduh 24 desember
2011
Dari
uraian di atas, jelas bahwa pendekatan merupakan alat yang di gunakan untuk
mencapai sebuah tujuan, maka di perlukan pengetahuan tentang cara pengetahuan
itu diperoleh. Perumusan tujuan yang
jelas merupakan persyaratan penting sebelum guru menentukan metode belajar di
kelas. Untuk mencapai hasil mengajar yang tepat, maka di perlukan pendekatan
metode tertentu yang sesuai dengan kondisi kelas. Hal ini untuk mencapai tujuan
yang telah di tentukan sesuai tujuan pendidikan.
b. Pendekatan Eksploratori
Eksploratory berasal dari kata eksplorer, yang berarti penjelajahan.
Dalam hal ini eksploratory diartikan
sebagai metode Jelajah Alam Sekitar (JAS). Ekploratory
merupakan pendekatan pembelajaran sains yang memanfaatkan objek langsung
melalui kegiatan pengamatan, diskusi dan pelaporan hasil.
Pendekatan Eksploratory didasarkan pada tiga ciri pokok yaitu :
a. Selalu dikaitkan dengan alam
sekitar secara langsung, tidak langsung maupun dengan menggunakan media.
b. Selalu
ada kegiatan berupa peramalan, pengamatan, dan penjelasan.
c. Ada laporan untuk dikomunikasikan
baik secara lisan, tulisan, gambar, foto, atau audiovisual.
Gerakan pendidikan yang mendekatkan
anak dengan alam sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar. (Sagala,
2009:180).
Perintis gerakan (pendekatan) alam
sekitar ini antara lain adalah Finger (1808-1888) di Jerman dengan ‘heimatkunde’ (pengajaran alam sekitar),
dan Lightart (1859-1916) di Belanda dengan ’Het
Volle Leven’ (kehidupan senyatanya).
Dari berbagai pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa metode eksploratory adalah
metode yang mendekatkan anak didik pada alam sekitarnya. Sehingga berbagai
tujuan dalam pembelajaran dapat dicapai. Dengan mengamati objek secara
langsung, anak didik akan lebih paham apa yang mereka pelajari.
c. Prinsip-prinsip
metode Eksploratory
Menurut gerakan ’Heimatkunde’
yang dipelopori oleh Finger (1808-1888) mengemukakan beberapa prinsip
tentang pengajaran alam sekitar, yaitu:
a. Dengan
pengajaran alam sekitar, guru dapat memperagakan secara langsung sesuai dengan
sifat-sifat atau dasar-dasar pengajaran.
b. Pengajaraan alam sekitar memberikan
kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak aktif atau giat tidak hanya duduk,
dengar, dan catat.
c. Pengajaran
alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran secara totalitas.
d. Pengajaran alam sekitar memberi
kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas.
e. Pengajaran alam sekitar
memberikan apersepsi emosional, karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional
dengan anak.
Alam sekitar tidak berbeda untuk
anak maupun orang dewasa, segala kejadian dialam sekitarnya merupakan sebagian
dari hidupnya sendiri dalam suka maupun duka. Alam sekitar bersifat fundamental
pendidikan dan pengajaran memberi dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian
yang spontan terhadap segala sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu
didasarkan atas dan diambil dari alam sekitar. (Sagala, 2009:180).
Dalam
pembelajaran siswa “menemukan “ merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh di harapkan hasil
yang di dapat bukan semata hapalan tetapi berdasarkan penemuan sendiri
siswa. Guru harus merancang kegiatan
yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang di ajarkan.
d. Tahap-tahap dalam ekploratory
a. Merumuskan
masalah
b. Mengamati
c. Menganalisis
dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya.
d. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru.
3. Aktivitas Belajar
a.
Pengertian
Aktivitas
Aktivitas belajar adalah seluruh
aktivitas siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan
psikis. Kegiatan fisik berupa ketrampilan-ketrampilan dasar sedangkan kegiatan
psikis berupa ketrampilan terintegrasi. Ketrampilan dasar yaitu mengobservasi,
mengklasifikasi, memprediksi, mengukur,menyimpulkan danmengkomunikasikan.
Sedangkan ketrampilan terintegrasi terdiri dari mengidentifikasi variabel,
membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan
hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis
penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional,
merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen.
“Pada
prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas.
Itulah mengapa aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi
belajar mengajar”(Sardiman, 2001:93). Dalam aktivitas belajar ada beberapa
prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yaitu pandangan ilmu jiwa
lama dan modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama, aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa
modern, aktivitas didominasi oleh siswa.
“Kegiatan
belajar / aktivitas belajar sebagi proses terdiri atas enam unsur yaitu tujuan
belajar, peserta didik yang termotivasi, tingkat kesulitan belajar, stimulus
dari lingkungan, pesrta didik yang memahami situasi, dan pola respons peserta
didik ”(Sudjana,2005:105)
Menurut
Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala
sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun
non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Aktivitas siswa selama proses belajar
mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar.
Menurut
Hamalik (2001: 28), belajar adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut
adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional,
hubungan sosial, jasmani, etis atau budipekerti dan sikap. Sedangkan, Sardiman (2003
: 22) menyatakan: “Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia
dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi,fakta, konsep ataupun
teori”.
Dapat disimpulkan bahwa
aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses
interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang
dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif,
seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas(2005 : 31),
belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan
siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil
belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif, afektif dan psikomotor”.
Keaktifan
siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya
keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan
apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau
siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab
pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru
dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan
suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat
melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa
akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan
mengarah pada peningkatan prestasi.
a. Klasifikasi Aktivitas Belajar
Aktivitas
belajar siswa pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi 8 kelompok.
Pengelompokan tersebut didasarkan pada pendapat Paul D. Dierich yang mengklasifikasikan aktivitas
belajar atas delapan kelompok.
1. Kegiatan-kegiatan Visual
Membaca,
melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan
mengamati orang lain bekerja dan bermain. (Hamalik, 2001:172 dalam Suyatna, 2007)
2. Kegiatan-kegiatan Lisan (oral)
Mengemukakan
suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan,
memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.(Hamalik,
2001:172 dalam Suyatna, 2007)
3. Kegiatan-kegiatan Mendengarkan
Mendengarkan
penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan
suatu permainan, mendengarkan radio.(Hamalik, 2001:172 dalam Suyatna, 2007)
4. Kegiatan-kegiatan Menulis
Menulis
cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat
rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.(Hamalik,
2001:172 dalam Suyatna, 2007)
5. Kegiatan-kegiatan Menggambar
Menggambar,
membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola.(Hamalik,
2001:172 dalam Suyatna, 2007)
6. Kegiatan-kegiatan Metrik
Melakukan
percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model,
menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.(Hamalik,
2001:172 dalam Suyatna, 2007)
7. Kegiatan-kegiatan Mental
Merenung,
mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat
hubungan-hubungan dan membuat keputusan.
(Hamalik,
2001:172 dalam Suyatna, 2007. http://www.com/59940019/WIWIT-makalah astronomi)
diunduh 24 Desember 2011
Dalam
berbagai penelitian, ada 3 aspek aktivitas siswa yang diamati yakni motivasi,
keaktifan dan kerja sama. Indikator-indikator yang digunakan dalam penskoran
masing-masing aspek tersebut adalah:
Untuk
aspek motivasi:
- Semangat dan ketertarikan mengikuti pembelajaran
- Memperhatikan penjelasan guru dari awal sampai akhir pembelajaran
- Antusiasme yang tinggi
- Tidak mengobrol dan melakukan aktivitas lain yang mengganggu proses pembelajaran
Untuk
aspek keaktifan:
- Berani bertanya
- Berani mengemukakan pendapat
- Berani menjawab pertanyaan
- Berani maju ke depan kelas tanpa disuruh oleh guru
Untuk
aspek kerjasama, indikatornya adalah:
- Bersedia membantu teman selama kegiatan pembelajaran
- Menghargai pendapat dan penjelasan teman
3. Tidak mengganggu teman saat
pembelajaran
4. Tanggung jawab terhadap tugas
kelompok
5.
Prestasi Belajar
1. Pengertian
Prestasi Belajar
Istilah
prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasidan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah
Populer (Satrio, 2005: 467) didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai.
Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwa belajar dalam arti luas dapat diartikan
sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah
laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan
atau munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau
oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal.
Adapun pengertian belajar secara kualitatif
(tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta
cara- cara menafsirkan dunia disekeliling pelaku belajar. Belajar dalam
pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang
berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi
pelaku belajar.
Abdullah (2008:78), beliau mengutip pendapat
beberapa pakar dalam menjabarkan pengertian belajar, di antaranya adalah
sebagai berikut:
a.
Nasution (1982: 68) mendefinisikan belajar
sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa suatu
perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai
sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan,
kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi
segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar.
b.
Sedangkan Shalahuddin (1990: 29)
mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku melalui
pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Perubahan itu sendiri
berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari
pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan
psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan
instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil
pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol,
huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap
anak pada periode tertentu.
Prestasi
belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi
belajar. Menurut Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar
bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam
belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang
disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam
menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan
pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes
formatif,tes sumatif,bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.
Kemampuan intelektual siswa sangat
menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui
berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu terjadi apabila tidak ada
suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Prestasi belajar merupakan hal
yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar
merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar.
Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak
kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan
pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun
dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan.
Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian
prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dilakukan suatu
evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah
proses belajar mengajar berlangsung
Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas
belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang
dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.
Ada lagi yang lebih khusus
mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan
yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi
apabila tidak ada sesuatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Sedangkan menurut Nasution (1996:17) prestasi belajar
adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan
berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni:
kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang
memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.
Prestasi belajar siswa dapat
diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan
tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
b.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar
Untuk mencapai prestasi belajar
siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri
siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor
ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis
sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor
keluarga, sekolah,masyarakat dan sebagainya.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor internal yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Kesehatan dan cara belajar
Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor internal yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Kesehatan dan cara belajar
a. Kecerdasan/Intelegensi adalah
kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan
yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya
intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat
perkembangan sebaya. Ada kalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan
yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak
pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor
intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam
kegiatanbelajarmengajar.
Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan
merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil
tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan
normal atau di atas normal maka secara potensi iadapat mencapaiprestasi yang tinggi.”
Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensiyang rendah.”
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah“semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa makasemakin kecil peluangnya untuk meraihsukses.”
Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensiyang rendah.”
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah“semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa makasemakin kecil peluangnya untuk meraihsukses.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa
intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat
penting bagiseorang anak dalam usaha belajar.
b. Bakat adalah kemampuan tertentu yang
telah dimiliki seseorangsebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan
apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini
lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu
mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.”
Kartono (1995:2) menyatakan bahwa
“bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk
dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut
Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan individu
untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan
latihan.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa
tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang
dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya
prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama
belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil
akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya
untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.
c. Minat adalah kecenderungan yang
tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang
dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.
Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek
untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung
dalam bidang itu.”
Selanjutnya Slameto (1995:57)
mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan
terus yang disertai dengan rasa sayang.”Kemudian Sardiman (1992:76)
mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat
ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan
keinginan-keinginan atau
kebutuhan-kebutuhan sendiri.”
Berdasarkan pendapat di atas,
jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan
pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena
minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam
menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk
melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang
mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk
melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat
tercapai
sesuai dengan keinginannya.
d. Motivasi dalam belajar adalah faktor
yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa
untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah
bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam
kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai
motivasi untukbelajar.
Nasution (1995:73) mengatakan
motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.”
Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan
siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukansesuatu.”
Dalam perkembangannya motivasi dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi
ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari
dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan
sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan
motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa
tersebut melakukankegiatan belajar.Dalam memberikan motivasi seorang guru harus
berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa
kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan
timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk
membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar
dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif.
e. Kesehatan
Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruh proses belajar.
Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruh proses belajar.
f. Cara Belajar
Perlu untuk diperhatikan bagaimana
teknik belajar, bagaimana
bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.
2.
Faktor Eksternal
Faktor
eksternal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang
sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan
keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya.
Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”
Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”
a. Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa,negara dan dunia.”
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.”
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa,negara dan dunia.”
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.”
Oleh
karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari
keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan
informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang
tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak.
Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh
perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua
dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan
tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk
belajar.
b. Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Menurut
Kartono (1995:6) mengemukakan “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran
yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh
sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan,
dan memiliki metode yang tepat dalam
mengajar.
c. Lingkungan Masyarakat
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak ituberada.Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat: Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula.
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak ituberada.Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat: Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula.
Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk
kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu
menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu,
apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin
belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya,
sehingga iaakan
turut belajar sebagaimana temannya.
Dari sekian banyak faktor yang harus diperhatikan, tentu
tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara keseluruhan dan sempurna.
Tetapi berusaha untuk memenuhinya sesempurna mungkin bukanlah faktor yang
mustahil untuk dilakukan.
C.
Pendekatan
Strategi Pembelajaran Eksploratori Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA)
Sebagai bagian dari konsep
pembelajaran kontekstual, pendekatan eksploratori menitikberatkan pad konsep
pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat (Depdiknas,2003:5)
Pembelajaran
kontekstual dirancang dan dilaksanakan berdasrkan filosofi konstruktivisme
yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar
menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak pikiran mereka,
karena pada dasarnya pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta
atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat
diterapkan. (Sugandi,,2004:41)
Dalam pandangan
konsep tersebut strategi “memperoleh” lebih diutamakan di banding seberapa
banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Tugas guru
adalah mefasilitasi :
a.Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan
b.Memberi
kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
c. Menyadarkan
siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri.
Dalam
pembelajaran siswa “menemukan” merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di harapkan hasil
yang di dapat bukan semata hapalan tetapi berdasarkan penemuan sendiri siswa.
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kegiatan manusia yang berupa pengetahuan,
gagasan dan konsep-konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang
diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses kegiatan ilmiah antara
lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.
Lebih lanjut
pengertian IPA menurut Fisher (1975) dikutip oleh Muh. Amin (1987:3) mengatakan
bahwa “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sah satu kumpulan pengetahuan yang
tersusun secara sitematik yang didalamya secara umum terbatas pada
gejala-gejala alam”
Dari pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan salah satu kumpulan ilmu
pengetahuan yang mempelajari alam semesta, baik ilmu pengetahuan yang
mempelajari alam semesta yang bernyawa ataupun yang tidak bernyawa dengan
mengamati bergai jenis dan perangkat lingkungan alam serta lingkungan alam
buatan. IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sitematik untuk
menguasai pengetahuan, factor-faktor, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses
penemuan, dan memiliki sikap ilmiah.
Menurut sumaji (1998:31) IPA
berupaya untuk membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan
pemahamannya mengenai alam sekitarnya. Mata pelajaran IPA adalah program untuk
menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah
pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Sang pencipta
(Depdiknas 2004:97)
Jadi dapat
disimpulkaan bahwa dalam pembelajaran IPA selalu mengaitkan dengan alam dan
lingkungan sekitar, yang mana pada penerapan strategi ekploratori banyak
mengaitkan pembelajaran yang mengunakan alam sekitar sebagai sumber
belajar.
D.
Hasil Penelitian Yang Relevan
1. Menurut Agus Suyatna, dalam penelitiannya yang berjudul penerapan
model pembelajaran astronomi berbasis inkuiri dan eksplorasi serta berorientasi
pemberian contoh untuk calon guru fisika (2007) Hasil penelitian menunjukkan Pembelajaran Astronomidengan pendekatan
inkuiri dan eksploratif serta berorientasi contoh untuk calon guru fisika dapat
meningkatkan pengetahuan mahasiswa secara
signifikan dengan normalized gain skor rata-rata 72%. Tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model ini sangat positif.Belajar
Astronomi dengan cara ini menurut mahasiswa lebih bermakna, baik untuk bekal hidup mereka maupun untuk modal mengajar kelak.
Mahasiswa calon guru memperoleh gagasan untuk membelajarkan topik ini
kelak di sekolah.
2. Menurut
Bahmid, dalam penelitiannya yang berjudul Meningkatkan Motivasi Belajar IPA
Pokok Bahasan Penyesuaian Makhluk Hidup Terhadap Lingkungannya Melalui
Pendekatan Eksploratory Discovery
Pada Siswa Kelas V SDN 5 Pringgabaya Tahun Pelajaran 2010 / 2011 (2011). Dari
hasil penerapan metode Eksploratory
Discovery pada pokok bahasan penyesuaian diri makhluk hidup dengan
lingkungannya di kelas V SDN 5 Pringgabaya Tahun Pelajaran 2010 / 2011, motivasi
belajar siswa menjadi meningkat dari motivasi belajar yang rendah dengan skor
rata-rata 19,82 menjadi motivasi belajar yang tinggi dengan skor rata-rata
34,34. Data hasil belajar pun
menjadi meningkat dari nilai rata-rata siswa 57,60 menjadi 70,00.
D.
Perencanaan Tindakan
IPA
(Sains) merupakan salah satu kumpulan ilmu pengetahuan yang mempelajari alam
semesta, baik ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta yang bernyawa
ataupun yang tak bernyawa dengan jalan mengamati berbagai jenis dan perangkat
lingkungan alam serta lingkungan alam buatan. IPA (Sains) merupakan cara
mencari tahu tentang alam secara sistematik untuk menguasai pengetahuan,
fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki
sikap ilmiah.
Pengajaran IPA menurut Depdikbud
(1993/1994:98-99) bertujuan agar siswa:
a. Memahami konsep-konsep IPA dan
kaitannya dengan kehidupan sehari-sehari.
b. Memiliki keterampilan proses untuk
mengembangkan pengetahuan, dan ide tentang alam di sekitarnya.
c. Mempunyai minat untuk mengenal dan
mempelajari benda-benda serta peristiwa di lingkungan sekitar.
d. Bersikap
ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggungjawab, bekerjasama
dan mandiri.
e. Mampu
menerapkan berbagai macam konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
f. Mampu menggunakan teknologi
sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari.
g.
Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari
kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut
Kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
dinyatakan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains adalah
sebagai berikut:
a. Menanamkan rasa ingin tahu dan
suatu sikap positif terhadap teknologi dan masyarakat.
b. Mengembangkan keterampilan proses
untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
c. Menanamkan pengetahuan dan
pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
d. Mengembangkan kesadaran tentang
peran dan pentingnya sains kehidupan sehari-hari.
e. Mengalihgunakan
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman kebidang pengajaran lainnya.
metode eksploratory adalah metode yang mendekatkan anak didikpada alam
sekitarnya. Sehingga berbagai tujuan dalam pembelajaran dapat dicapai. Dengan
mengamati objek secara langsung, anak didik akan lebih paham apa yang mereka
pelajari.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan adalah
penelitian tindakan kelas ( PTK ). Rangkaian kegiatan dalam Penelitian Tindakan
Kelas ini mengacu pada pedoman PTK dari Stephen Kemmis dan Robin. PTK sangat erat hubungannya dengan
praktek pembelajaran yang dihadapi guru. Tujuan melakukan PTK yaitu untuk
meningkatkan dan memperbaiki praktek yang seharusnya dilakukan oleh guru,
sehingga guru akan lebih banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan
alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran dari pada
perolehan pengetahuan umum dalam bidang pendidikan yang dapat
digeneralisasikan.
Ada beberapa keunggulan, ketika
seorang guru melakukan penelitian dengan menggunakan metode tindakan, yaitu
sebagai berikut :
1. Mereka
tidak harus meninggalkan tempat kerjanya.
2. Mereka
dapat merasakan hasil dari tindakan yang telah direncanakan.
- Bila treatment ( perlakuan ) dilakukan pada responden maka responden dapat merasakan hasil treatment ( perlakuan ) dari penelitian tindakan kelas. Tiga keunggulan dari penelitian tindakan kelas ini, tidak dimiliki oleh penelitian dengan metode penelitian lain
“Penelitian tindakan kelas ini adalah
penelitian yang dimaksud untuk memperbaiki pembelajaran” (Kasbolah, 1998; 12).
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus,
dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, meliputi; 1)tahap
perencanaan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap evaluasi/observasi, dan 4) tahap refleksi.
Tahap 1
|
Tahap 2
|
Tahap 3
|
Tahap 4
|
PERENCANAAN
|
TINDAKAN
|
EVALUASI
|
REFLEKSI
|
Model PTK Kurt Lewin ( Kusuma W dan Dwitagama D; 2009: 28)
keterangan:
(1) Perencanaan Tindakan (Planning)
Sebelum
dilaksanakam penelitian, perlu dilakukan berbagai persiapansehingga semua
komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah
persiapan yang perlu ditempuh adalah:
1. Membuat rencana atau skenario
pembelajaran yang berisi langkah-langkah yang dilakukan guru dan bentuk-bentuk
kegiatan yang dilakukan siswa.
2. Mempersiapkan sarana pendukung
kegitan belajar mengajar, seperti gambar-gambar dan alat peraga.
3. Membuat lembar observasi untuk
merekam pelaksanaan tindakan.
(Wibawa
2003, dalam Widodo, 2005:25).
(2) Pelaksanaan tindakan (Action)
Tahap
ini merupakan implementasi atau pelaksanaan dari semua rencana yang telah
dibuat. Tahap ini berlangsung di dalam kelas, merupakan realisasi dari segala
teori pendidikan dan teknik mengajar yang sudah dipersiapkan (Wibawa, 2003
dalam Widodo, 2005: 26).
(3) Pengamatan Tindakan
Kegiatan
observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang
dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang
sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dau hasil instruksional yang
dikumpulkan dengan lembar observasi (Wibawa 2003, dalam Widodo, 2005:26).
(4) Refleksi terhadap tindakan ( Reflection)
Tahapan
ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada saat dilakukan
pengamatan . Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya,
dianalisis dan disintesis (Wibawa, 2003 dalam Widodo, 2005:26). Dengan suatu
refleksi yang tepat akan menjadi dasar yang penting untuk perbaikan perencanaan
atau skenario tindakan selanjutnya. Demikian seterusnya sehingga keempat
tahapan PTK ini membentuk siklus berkesinambungan
(5) Perencanaan tindak lanjut
Tindakan
perbaikan lanjut dilakukan apabila dari hasil analisis dan refleksi ternyata
masih belum memuaskan atau belum tuntas pengatasannya maka PTK harus
dilanjutkan pada siklus berikutnya, dengan prosedur yang sama. Perencanaan
tindak lanjut tidak akan diperlukan apabila masalah yang ingin diteliti telah
tercapai atau hasil penelitian tindakan telah memuaskan (Tim Penelitian Proyek
PGSM, 1999:46).
http://www.farhan-bjm.web.id/2011/09/penelitian-tindakan-kelas-classroom.html
diunduh 1 juni 2012
B. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
a. Rencana
Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian dilakukan dengan
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut
:
1. Persiapan Penelitian
Pada
tahap persiapan ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu : (a) penyusunan
pedoman kerja, (b) penyusunan instrumen dan perangkat pembelajaran
2. Perencanaan Tindakan
Penelitian
tindakan kelas ini direncanakan dalam 2 siklus atau lebih melihat perubahan
yang terjadi saat kegiatan pembelajaran.
Pada
tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut :
a. Mengadakan
pertemuan, antara guru pelaksana tindakan dan guru pengamat serta dilakukan
diskusi tentang persiapan penelitian
b. Menyiapkan
lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa, angket
partisipasi, angket respon siswa, soal tes, dan catatan lapangan.
c. Menyiapkan
rencana pelajaran yang telah disusun pada persiapan penelitian
d. Menyiapkan
alat tulis, peralatan multimediauntuk pembelajaran.
3.
Pelaksanaan
Tindakan
Pada
tahap pelaksanaan tindakan guru melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan
rencana pelajaran yang telah disusun
Pada
akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir
untuk mengetahui hasil belajar siswa
4. Refleksi
Refleksi
ini dilakukan untuk mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil
belajar IPA. Hasil kajian tindakan siklus I selanjutnya untuk dipikirkan serta
ditetapkan beberapa alternative tindakan baru yang diduga lebih efektif untuk
meningkatkan hasil belajar IPA. Tindakan ini ditetapkan menjadi tindakan baru
pada siklus II.
C. Subyek Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di
SMKN I Pondok Kelapa Kecamatan pondok Kelapa pada siswa kelas X TKJ 2 yang berjumlah 31 orang, yang terdiri
dari 15 orang siswa laki-laki dan 16
orang siswa perempuan.
Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMKN I
Pondok Kelapa,Kec. Pondok Kelapa,Kab.
Pondok Kelapa, Kab. Bengkulu Tengah. Penelitian dilakukan dikelas X TKJ 2
2. Waktu Penelitian
Penelitian
dilaksanakan selama 3 bulan,dimulai dari bulan Februari hingga April 2012
D. Definisi Operasional Variabel
Penelitian
1. Eksploratory berasal dari kata eksplorer, yang berarti penjelajahan.
Dalam hal ini eksploratory diartikan
sebagai metode Jelajah Alam Sekitar (JAS). Ekploratory
merupakan pendekatan pembelajaran sains yang memanfaatkan objek langsung
melalui kegiatan pengamatan, diskusi dan pelaporan hasil (Mariyanti, 2006 dalam
Suyatna, 2007. http://www.scribd.com/59940019/WIWIT-makalah astronomi) diunduh 24
desember 2012
2. Aktivitas belajar adalah seluruh
aktivitas siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan
psikis. Kegiatan belajar / aktivitas belajar sebagai proses terdiri atas enam
unsur yaitu tujuan belajar, peserta didik yang termotivasi, tingkat kesulitan
belajar, stimulus dari lingkungan, pesrta didik yang memahami situasi, dan pola
respons peserta didik. Dalam aktivitas belajar ada beberapa prinsip yang
berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yaitu pandangan ilmu jiwa lama dan
modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama, aktivitas didominasi oleh guru
sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa.
3. Prestasi belajar Ilmu Pengetahuan
Alam merupakan suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai keberhasilan
belajar seseorang setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui
evaluasi belajar selama satu periode tertentu, dan melatih pemahaman siswa
terhadap konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam, melatih keterampilan siswa dalam
menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu
masalah.Prestasi belajar dapat berupa
pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan
(psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan
bahwa prestasi belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan
belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam
waktu tertentu.
E. Metode Dan Instrumen Pengumpulan
Data
Secara
fungsional kegunaan instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan
ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan.
Pada penelitian PTK ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi
dan metode Tes, yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap siswa selama proses
pembelajaran dan dengan melakukan pere-test untuk mengetahui kemampuan awal
siswa sebelum dilakukan perlakuan dengan menggunakan pendekatan eksploratori
dan post-tes setelah siswa diberi perlakuan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan eksploratori.
a. Metode
Observasi
Metode observasi adalah melakukan
pengamatan dengan menggunakan alat pengumpulan data dengan cara mengamati dan
mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Metode observasi ini
digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran
berlangsung. Dalam hal ini peneliti menggunakan lembar observasi untuk
mengetahui aktivitas siswa
( lembar terlampir )
b. Metode
Tes
Metode
tes adalah cara memperoleh data yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh
seseorang atau kelompok orang yang dites. Dari tes dapat menghasilkan skor yang
nantinya dibandingkan dengan kriteria tertentu sehingga memperoleh nilai (
Gede, Agung,1997 : 75).
Metode
tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dengan alat pengumpul data
berupa butir-butir tes yang sesuai dengan pokok bahasan yang sudah
diajarkan,dengan melakukan pre-tes dan post-tes.
F. Analisis Data
Setelah semua data sudah
didapat maka peneliti akan melakukan analisis data secara analisis statistik
deskriftif dan metode analisis deskriptif
kuantitatif sebagai berikut :
Metode analisis statistik
deskriptif yaitu : suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan
menerapkan rumus-rumus seperti distribusi frekuensi, grafik, mean, median,
strandar deviasi untuk menggambarkan suatu obyek atau variable tertentu
sehingga diperoleh kesimpulan umum ( Gede, Agung, 1999 : 76).
1. Data
Hasil Observasi
Data
Hasil observasi dengan menggunakan lembar observasi siswa untuk setiap aspek yang diamati.
Kategori yang digunakan adalah Kurang (K), Cukup (C), dan Baik (B)
Tabel
3.1: Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati
Kriteria
|
Skor
|
Kurang (K)
Cukup (C)
Baik (B)
|
1
2
3
|
Data observasi dianalisis dengan menggunakan rumus
:
1.
2. Skor
tertinggi = Jumlah butir soal X Skor tertinggi tiap butir
3.
(Sudjana,
2001 : 37 dalam Febrianti)
Lembar
Observasi aktivitas Siswa
Skor tertinggi tiap butir observasi
3, sedangkan jumlah butir observasi 9 butir, maka skor tertinggi adalah 27.
Data
yang diperoleh dari lembar observasi siswa akan dianalisis dengan menggunakan
skor pengamatan dan interval kategori seperti yang tertera dalam tabel berikut
:
Tabel
3.2 : Interval Kategori Penilaian Lembar Observasi Siswa
Kategori
|
Skor
|
Interval
|
Kurang (K)
Cukup (C)
Baik (B)
|
1
2
3
|
1 - 9
10 -18
19 - 27
|
2.
Menghitung Mean ( Rata-rata)
Σfx
M = ( Sujana, 1975 : 38)
N
Keterangan
:
M :
Rata-rata
Σfx : Jumlah
skor seluruh siswa
N : Jumlah siswa
a.
Metode Analisis Statistik Deskriptif Kuantitatif
Metode
analisis statistik deskriptif kuantitatif adalah : suatu cara pengolahan data
yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematik dalambentuk angka-angka
atau presentase mengenai suatu objek sehingga diperoleh kesimpulan umum ( Gede Agung, 1996 : 76).
Metode
ini digunakan untuk menentukan tingkat hasil belajar yang dikonversikan ke
dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala 5
a. Konversi
Kreteria PAP Skala 5
Kriteria
PAP Skala 5 Tingkat Hasil Belajar Siswa
PERSENTASE
|
KRITERIA
|
90-100
80-89
65-79
55-64
0–54
|
Sangat
Baik
Baik
Cukup
Baik
Kurang
Baik
Sangat
Kurang Baik
|
(Gede, Agung, 1997 : 76).
Kriteria ketuntasan Belajar
PERSENTASE
|
KRITERIA
|
90 - 100
80 – 89
60 – 79
50 – 59
0 - 49
|
Sangat Baik/Tuntas
Baik/Tuntas
Cukup Baik/Tuntas
Kurang Baik/Tidak Tuntas
Sangat Kurang Baik/Tidak
Tuntas
|
Kriteria
ketuntasan minimal didapatkan berdasarkan tingkat kesukaran materi pelajaran,
daya dukung atau fasilitas yang ada disekolah yang mendukung dalam proses
pembelajaran, serta intake atau kemampuan awal atau kemampuan dasar dari siswa
mengenai materi yang akan diajarkan.
Perhitungan Uji beda,dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
MD
t = (sutrisno)
MD = Mean Differences
d = Deviasi individu dari MD
N = Jumlah Subjek
Uji
beda dilakukan antara pre-test dan post-test tiap siklus,dan post-test antar
siklus
Komentar
Posting Komentar